DBD dan Efektifitas Fogging

 
IRWAN MUSTAFA, M.Epid 
Ketua Badan Khusus Public Health Pengda PERSAKMI Maluku Utara 

Beberapa bulan terakhir ini kita di Maluku Utara di hadapkan dengan wabah Demam Berdarah Dengue (DBD). Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk. Demam berdarah DBD dulu disebut penyakit “break-bone” karena kadang menyebabkan nyeri sendi dan otot di mana tulang terasa retak.

Demam berdarah ringan menyebabkan demam tinggi, ruam, dan nyeri otot dan sendi. Demam berdarah yang parah, atau juga dikenal sebagai dengue hemorrhagic fever, dapat menyebabkan perdarahan serius, penurunan tekanan darah yang tiba-tiba (shock), dan kematian.
Data yang diperoleh  dari fasilitas pelayanan kesehatan saat ini (RSUD dr. Chasan Boesoirie Ternate) bahwa  50 persen dirawat dengan hipotesis DBD, dan tentu kita bersukur karena angka kematian (Case fatality rate 0) atau tidak ada yang meninggal. Usia yang diserang DBD rata-rata di atas anak umur 1 tahun.
 
Jutaan kasus infeksi DBD terjadi setiap tahunnya di seluruh dunia. Kondisi ini dapat terjadi pada pasien dengan usia berapapun. Demam berdarah dengue paling banyak ditemui selama musim hujan dan setelah musim hujan di area tropis dan subtropis di Afrika, Asia Tenggara dan China, India, Timur Tengah, Karibia, Amerika Tengah dan Amerika Selatan, Australia, Pasifik Selatan dan Pasifik Tengah. Indonesia masuk di dalam area Tropis, sehingga penyakit ini setiap saat selalu menghantui kita, terutama di saat musim hujan tiba.

Apa saja tanda-tanda dan gejala demam berdarah dengue (DBD) ?
Terdapat tiga jenis demam dengue: demam berdarah klasik, dengue hemorrhagic fever, dan dengue shock syndrome. Masing-masing memiliki gejala yang berbeda.
Gejala demam berdarah klasik
Gejala dari demam berdarah klasik biasanya diawali dengan demam selama 4 hingga 7 hari setelah digigit oleh nyamuk yang terinfeksi, serta Demam tinggi, hingga 40 derajat C, sakit kepala parah, nyeri pada retro-orbital (bagian belakang mata), nyeri otot dan sendi parah, mual dan muntah, ruam. Ruam mungkin muncul di seluruh tubuh 3 sampai 4 hari setelah demam, kemudian berkurang setelah 1 hingga 2 hari. Anda mungkin mengalami ruam kedua beberapa hari kemudian.

Bagaimana upaya penanganan DBD dengan Fogging ? 
Menurut pakar epidemiologi FKM Universitas Airlangga Surabaya Dr. dr. M. Atoillah Isfandiari, M Kes mengatakan masyarakat kita, dalam banyak hal, menyukai hal-hal yang dramatis. Heboh. Dan dalam konteks pemberantasan demam berdarah, fogging adalah salah satu upaya yang dramatis. Heboh. Lebih besar hebohnya daripada hasilnya. Sama seperti orang orang dari generasi baby boom pas lagi ke dokter, kalau nggak disuntik nggak mantap, begitu lah kira-kira analoginya.

Kalau tidak melakukan fogging, pemerintah, dalam hal ini dinas kesehatan dan puskesmas, dianggap kurang tanggap. Dibayar tapi tidak kerja, begitulah komentar pada umumnya. Padahal  kenyataannya kan tidak begitu juga. Karena efek fogging itu tidak sedramatis asap dan suara mesin penyemprotnya. Jangan lupa, dibandingkan ukuran tubuhnya yang kecil, nyamuk adalah penerbang hebat. Ia bisa terbang hingga radius  100 m dari sarangnya. Itu setara dengan kira-kira jarak 10 rumah. Jadi dalam konteks pulau Jawa yang kepadatan penduduknya sudah melampaui batas toleransi kesehatan ini maka kalau foggingnya dilakukan hanya dalam satu RW, itu hanya akan memaksa nyamuk untuk mengungsi sementara ke RW sebelah sampai “kehebohan” mereda, yang biasanya hanya berlangsung beberapa jam saja.
Jadi ketika asap fogging itu sudah menghilang, mengendap ke atas permukaan tanah karena bobotnya yang berat (karena  campuran malathion adalah 480-500 ml dlm 5-10 liter solar, tergantung persentase malathionnya) maka yang tersisa adalah bangkai binatang binatang yang nggak bisa terbang atau lari cepat, seperti cicak dan kecoak di selokan.  Sementara, nyamuk yang dikira menghilang sebenarnya hanya mengungsi sementara ke RW tetangga.

Kalaupun ada nyamuk yang mati, harus kita ingat bahwa anak anak mereka, yang dalam bentuk jentik-jentik,  tidak mati. So ketika mereka tumbuh dewasa tentunya akan menuntut balas kematian orang tua mereka.

Di samping itu, jangan lupa pula efek samping dari Malathion, yang sebenarnya adalah pestisida juga. Mulai dari efek samping ringan yang sekedar mual muntah hingga kelainan janin bila dihirup oleh wanita hamil trimester pertama.

Karena itu, berantaslah mereka selagi masih anak-anak. Hehehe…kejam ya. Ya kejam juga sih, karena sebenarnya nyamuk itu tidak salah. Mereka hanya mencari nafkah yang untuk itu mereka pun harus bertaruh nyawa, dan kebetulan mereka pun sebenanya terinfeksi pula oleh virus Dengue  ini, hanya saja tidak ikut menderita demam berdarah, meskipun tubuh mereka belang belang. Itu mah asli dari sononya.

Tapi pilihan kita kan, anak –anak nyamuk itu, atau anak anak kita. Caranya bagaimana? Ya satu satunya cara yang efektif ya kita sendiri yang melakukan aksi. Dan biasanya sulit memang, karena kita terbiasa meminta dilayani.
Dengan 3 M plus-plus.
Sering didengar, tapi saking seringnya malah jadi terabaikan. Karena ya, tadi itu. Tidak dramatis. Tidak heboh. Dan juga mengandung “Pemerintah ngapain aja, kok tidak melakukan apa-apa”.
Menutup penyimpanan air, apapun bentuknya, mulai dari bak mandi, gentong air minum, sumur, apapun. Karena harap maklum kita tidak tinggal di negara di mana air minum dan mandi lancar sehingga minum cukup putar keran, mandi cukup nyalain shower, sehingga bak mandi, gentong, sumur, tendon, sementara ini adalah bagian dari budaya kita. Jadi, terpaksa jangan sampai lupa mengurasnya.

Sampah-sampah yang menumpuk di dalam dan, terutama, di luar rumah, harus dilenyapkan. Karena itu, huruf M ketiga, kalau menurut saya (hehehe) adalah “melenyapkan” mereka. Dulu M ketiga ini singkatan dari “Mengubur”, tapi kemudian diprotes oleh para pecinta lingkungan mengingat beberapa sampah seperti ban bekas misalnya, kalau dikubur akan mencemari tanah karena sulit terurai hingga 400 tahun. Masak harus saya singkat “meng kilo-kan”, hehehe….
Intinya, sebenarnya 3 M ini adalah membentuk karakter cinta kebersihan. Dan itu berat, karena tahapnya harus mulai dari terpaksa, lalu menjadi akhirnya terbiasa, lama-lama akan jadi budaya, sebelum akhirnya akan menjadi jiwa. Karakter. Meskipun berat, jangan mau hanya Dilan yang melakukannya.
Lalu, plus-plus nya apa ?
Plus-plusnya sih terserah. Mau “mengoleskan repellant” juga boleh. Ingat, mungkin lingkungan kita bersih dari jentik, tapi di sekolah anak kita? Jangan-jangan mereka tergigitnya di sekolah? jAdi jangan lupa mengoleskan repellant sebelum mereka sekolah, terutama yang masih pakai celana pendek.

Mau “menanam lavender” juga boleh. Nyamuk tidak suka bau lavender, jadi kalau kita menanam lavender, maka tidak ada nyamuk yang akan dekat-dekat rumah kita. Paling paling ya akan belok ke rumah tetangga. Atau “memasang kelambu”? bisa juga. Tapi ingat, kelambu biasanya digunakan kalau kita mau tidur. Padahal jam kerja Nyamuk Aedes ini adalah jam masuk kantor, yaitu shift pertama  antara jam 7 sampai jam 9 pagi, dan shift kedua antara jam 3 sampai jam 5 sore. Di malam hari, giliran masuk malamnya nyamuk-nyamuk proletar macam Culex dan mansonia, yang justru tidak menularkan virus Dengue.

Intinya, untuk memberantas demam berdarah, jangan mengandalkan fogging. Karena efektifitasnya pemberantasan dan terutama pencegahan demam berdarahnya rendah,  meskipun  efektifitasnya untuk kampanye seorang calon legislatif yang akan mencalonkan diri dalam rangka demam pemilihan legislatif cukup tinggi.

Mencegah lebih baik dari pada Mengobati***

Baca Juga: 

0 Response to "DBD dan Efektifitas Fogging"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel