Jika Pasar Sehat, Pasar Jadi Tempat Wisata. Part.1

  Mahri Samsul,SKM.,M.Kes. Sekretaris Umum Persakmi Maluku Utara

Pasar adalah suatu tempat bertemunya penjual dengan pembeli, dimana penjual dapat memperagakan barang daganganya dan membayar retribusi. Pasar merupakan salah satu tempat umum yang sering dikunjungi oleh masyarakat, sehingga memungkinkan terjadinya penularan penyakit baik secara langsung maupun tidak secara langsung melalui perantara vector seperti lalat, kecoa dan tikus. Sanitasi pasar adalah usaha pengendalian melalui kegiatan pengawasan dan pemeriksaan terhadap pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan oleh pasar yang erat hubunganya dengan timbul atau merebaknya suatu penyakit. Sedangkan pengertian pasar sehat adalah merupakan tempat dimana semua pihak-pihak terkait bekerjasa untuk menyediakan pangan yang aman, bergizi dan lingkungan yang memenuhi peryaratan kesehatan.

Pasar Sehat adalah kondisi pasar yang bersih, aman, nyaman dan sehat yang terwujud melalui kerjasama seluruh stakehorder terkait dalam menyediakan bahan pangan yang aman dan bergizi bagi masyarakat, sedangkan pasar tradisional adalah pasar yang berlokasi permanen, ada pengelola, sebagian besar barang yang diperjualbelikan adalah kebutuhan dasar sehari-hari dengan praktek perdagangan dan fasilitas infrastruktur yang sederhana, dan adanya interaksi langsung antara penjual dan pembeli (Kepmenkes 2008).

Status kesehatan suatu populasi/ penduduk sangat ditentukan oleh kondisi tempat-tempat dimana orang banyak beraktifitas setiap harinya dan juga ketersediaan layanan kesehatan yang optimal. Pasar adalah salah satu tempat dimana orang berkatifitas setiap harinya dan berperan sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan, terutama pasat tradisional bago golongan masyarakat menengah kebawah. Pada saat yang sama, pasar juga dapat menjadi jalur utama dalam penyebaran penyakit karena di pasar terdapat interaksi dan komunikasi yang intens bagi pedagang/ penjual dan pembeli/ pengunjung seperti penyakit SARS, Influenza, Flu burung (H5N1), Malaria, Demam Berdara, Kanker, ISPA, Keracunan Makanan, Antraks dan penyakit lain yang dapat memungkinkan terjadi jika lingkungan dan pangan yang tersedia tidak sesuai standar kesehatan.


Baca Juga : Bidan Penentu Keberhasilan Program Kesehatan.

Untuk mencegah tidak terjadinya jenis penyakit diatas, maka harus dilakukan yakni:
  1. Mencuci tangan dengan benar sebelum makan dan saat mengolah makanan serta setelah selesai dari toilet dapat mencegah infeksi bakteri berbahaya 
  2. Jangan mengkonsumsi hewan sakit atau hewan yang mati karena penyakit 
  3. Hanya mengkonsumsi daging yang telah dimasak matang karena banyak bakteri berbahaya hidup dalam usus hewan dan hanya mati dengan pemanasan suhu tinggi dan menyeluruh. Cairan daging harus bersih dan tidak ada bagiannya berwarna merah/ merah muda atau berair. 
  4. Jangan menjual makanan/ bahan pangan yang mengandung bahan kimia berbahaya seperti formalin dan boraks. 
  5. Lakukan zoning karena pemisahan barang dagangan dapat mencegah beredarnya virus berbahaya antara produk-produk dagangan yang berbeda. Pisahkan pula area bongkar angkut, pemotongan dan pemprosesan hewan. 
  6. Larang konsumen untuk memeriksa hewan ternak hidup sebelum pembeli dan membeli unggas hidup untuk dipotong dirumah 
  7. Masukkan makanan yang belum akan dimakan dalam lemari pendingin karena suhu dalam lemari pendingin dapat menghentikan perkembangbiakan bakteri sehingga tidak menjadi penyakit. 
  8. Makanansiap saji seperti (sayur, ikan, roti, nasi dll) harus disimpan dalam lemari atau tertutup sehingga terhindar dari serangga/ fektor; lalat, kecoa dan tikus.
Di Indonesia terdapat sekitar 13.450 pasar tradisional dengan 12.625 juta pedangan beraktifitas di dalamnya, Jika setiap pedagang memiliki empat anggota keluaga maka lebih dari 50 juta orang atau hampir 25% dari penduduk Indonesia beraktifitas di pasar, dengan banyaknya masyarakat yang membeli pangan di pasar tradisional. Diperkirakan paling tidak 60% kebutuhan pangan bagi penduduk di daerah perkotaan disediakan oleh pasar tradisional (Kota Sehat 2006).

Pasar sehat merupakan salah satu tatanan didalam pengembangan program Kabupaten/ Kota Sehat seperti yang tertuang dalam peraturan bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kesehatan Nomor 34 Tahun 2005 dan Nomor 1138 Tahun 2005 tentang penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat, pasar sehat mutlak diperlukan dalam mewujudkan Kabupaten/Kota Sehat dimana kebaradaanya merupakan salah satu factor utama yang dapat memepengaruhi derajat kesehatan masyarakat disuatu wilayah.

Maluku Utara dengan daerah kepulauan memiliki pasar tradisional 136 pasar dan 2 pasar modern terdapat di Kota Ternate, Semua pasar tradisional telah dilakukan inspeksi kesehatan lingkungan (IKL) yaitu ada 15 pasar yang telah dikatakan memenuhi syarat kesehatan lingkungan (Laporan Tahun 2018). Karena daerah kepulauan maka hampir semua pasar tradisional dekat dengan laut dan hamper semua belum memiliki IPAL disetiap pasar di Kabupaten/ Kota karena itulah pasar tradisional sangat membutuhkan Dinas Terkait (Disperindag, Dinas Kebersihan, Dinas Kesehatan, Dinas PU, Dinas Tata Kota, Dinas Perkim dan stakeholder lainnya) ikut berpartisipasi untuk mewujudkan Pasar Sehat, Kabupaten/Kota Sehat sehingga pasar tidak saja menjadi tempat jual beli/ perdagangan tetapi juga menjadi tempat wisata bagi pembeli/ masyarakat.

Persyaratan Kesehatan Lingkungan Pasar:
Lokasi
  1. Lokasi sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang Setempat (RUTR)
  2. Tidak terletak pada daerah rawan bencana alam seperti: Bantaran sungai, Aliran Lahar, Rawan longsor dan Banjir.
  3. Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan atau daerah jalur pendaratan penerbangan termasuk sempadan jalan.
  4. Tidak terletak pada daerah bekas pembuangan akhir sampah atau bekas lokasi pertambangan.
  5. Mempunyai batas wilayah yang jelas, antara pasar dan lingkungannya.
Bangunan
Secara Umum : Bangunan dan rancangan bangunan harus dibuat sesuia dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sedangkan syarat pada Penataan Ruang dagang, antara lain :

  1. Pembagian area sesuai dengan jenis komoditi, sesuia dengan sifat dan klasifikasinya, seperti : basah, kering, penjualan unggas hidup, pemotongan unggas.
  2. Pembagian zoning diberi indentitas yang jelas
  3. Tempat penjualan daging, karkas unggas, ikan ditempatkan di tempat khusus.
  4. Setiap los (area berdasarkan zoning) memiliki lorong yang yang lebarnya minimal 1,5 meter
  5. Setiap los/kios memiliki papan identitas yang nomor, nama pemilik dan mudah diliat 
  6. Jarak tempat penampungan dan pemotongan unggas dengan bangunan pasar utama minimal 10 m atau dibatasi tembok pembatas dengan ketinggian minimal 1,5 m 
  7. Khusus untuk jenis pestisida, bahan berbahaya dan racun (B3) dan bahan berbahaya lainnya ditempatkan terpisah dan tidak berdampingan dengan zona makanan dan bahan pangan.
Ruang Kantor Pengelola
  1. Ruang kantor memiliki venilasi minimal 20% dari luas lantai
  2. Tingkat pencahayaan ruangan minimal 200 lux
  3. Tersedia ruangan kantor pengelola dengan tinggi langit2 dari lantai sesuai ketentuan yang berlaku
  4. Tersedia toilet terpisah bagi laki-laki dan perempuan
  5. Tersedia tempat cuci tangan dilengkapi dengan sabun dan air yang mengalir
Tempat Penjualan Bahan Pangan Dan Makanan
a. Tempat Penjualan Bahan Pangan Basah
  1. Mempunyai meja tempat penjualan dengan permukaan yang rata dengan kemiringan yang cukup sehingga tidak menimbulkan genangan airdan tersedia lubang pembuangan air, setiap sisi memiliki sekat pembatas dan mudah dibersihkan dengan tinggi minimal 60 cm dari lantai dan terbuat dari bahan tahap karat dan bukan dari kayu 
  2. Penyajian karkas daging harus digantung.
  3. Alas pemotong (telenan) tidak terbuat dari bahan kayu, tidak mengandung bahan beracun, kedap air dan mudah dibersihkan. 
  4. Pisau untuk memotong bahan mentah harus berbeda dan tidak berkarat.
  5.  Tersedia tempat penyimpanan bahan pangan, seperti: ikan dan daging  menggunakan ranti dingin (cold chain) atau bersuhu rendah (4-100C). 
  6. Tersedia tempat untuk pencucian bahan pangn dan peralatan
  7.  Tersedia tempat cuci tangan yang dilengkapi dengan sabun dan air yang mengalir 
  8. Saluran pembuangan limbah tertutup dengan kemiringan sesuai ketentuan yang berlaku sehingga memudahkan aliran limbah serta tidak melewati area penjualan. 
  9. Tersedia tempat sampah kering dan basah, kedap air, tertutup dan mudh diangkat. 
  10. Tempat penjualan bebas vector penular penyakit dan tempat perindukannya, seperti : lalat, kecoa, tikus, nyamuk 
b. Tempat penjualan bahan pangan kering  
  1. Mempunyai meja tempat penjualan dengan permukaan yang rata dan mudah dibersihkan. 
  2. Meja tempat penjualan terbuat dari bahan yang tahan karat dan bukan dari kayu
  3.  Tersedia tempat sampah kering dan basah, kedap air, tertutup dan mudah diangkat
  4.  tersedia tempat cuci tangan yang dilengkapi dengan sabun dan air yang me ngalir 
  5. Tempat penjualan bebas binatang penular penyakit (vector) dan tempat perindukannya (tempat berkembang biak) seperti lalat, kecoa, tikus, nyamuk.
 Tempat Penjualan Makanan Jadi/Siap Saji 
  1. Tempat penyajian makanan tertutup dengan permukaan yang rata dan mudah dibersihkan, dengan tinggi minimal 60 cm dari lantai dan terbuat dari bahan yang tahan karat dan bukan dari kayu 
  2. Tersedia tempat cuci tangan yang dilengkapi dengan sabun dan air yang mengalir 
  3. Tersedia tempat cuci peralatan bahan yang kuat, aman, tidak mudah berkarat dan mudah dibersihkan 
  4. Saluran pembuangan air limbah dan tempat dari tempat pencucian harus tetap tertutup dengan kemiringan yang cukup. 
  5. Tersedia tempat sampah kering dan basah, kedap air, tertutup dan mudah diangkat. 
  6. Tempat penjualan bebas vector penular penyakit  dan perindukannya, seperti : lalat, kecoa, tikus, nyamuk. 
  7. Pisau yang digunakan untuk memotong bahan makanan baah/matang tidak boleh digunakan untuk makanan kering/mentah.
Next Reading ... Part 2
 Baca Juga : 

0 Response to "Jika Pasar Sehat, Pasar Jadi Tempat Wisata. Part.1"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel