Cuban Health Paradox

Dr. Marwan Polisiri, SKM, MPH (Ketua Pengda Persakmi Maluku Utara)

Kuba secara resmi disebut Republik Kuba (República de Cuba) adalah negara berdaulat yang terdiri dari pulau Kuba dan beberapa kepulauan kecil  di Karibia, dengan lebih dari 11 juta penduduk. Kuba adalah Negara satu-partai Marxisme–Leninisme, di mana peran Partai Komunis diabadikan dalam Konstitusi. Sebelum penjajahan Spanyol pada akhir abad ke-15, Kuba dihuni oleh suku-suku Amerindian. Ini tetap menjadi koloni Spanyol sampai Perang Spanyol–Amerika Serikat tahun 1898, yang membuahkan Amendemen Platt sebagai de facto dari wilayah perlindungan Amerika Serikat pada tahun 1902. 

Sebagai sebuah republik rapuh, Kuba berusaha untuk memperkuat sistem demokrasi, tetapi pemasangan radikalisasi politik dan perselisihan sosial memuncak dalam kediktatoran Fulgencio Batista pada tahun 1952.  Kerusuhan lebih lanjut dan ketidakstabilan menyebabkan tergulingnya Batista pada bulan Januari 1959 oleh Gerakan 26 Juli, yang kemudian mendirikan pemerintahan di bawah kepemimpinan Fidel Castro. Sejak tahun 1965, negara ini telah diatur oleh Partai Komunis Kuba.  


Saya lebih senang menggunakan kata belajar dari pada mengunakan kata membandingkan, karena idealnya jika membandingkan sesuatu harus berimbang atau biasa di istilahkan  Aple to Aple, artinya minimal kudua hal yang di bandingkan memiliki Karakteristik yang sama. Bagaimana membandingkan Indonesia dengan Kuba, dari luas wilayah maupun jumlah penduduk saja berbeda, belum lagi karakteristik wilayah, dimana Kuba dengan karakteristik mayoritas daratan yang mudah di akses sedangkan Indonesia memiliki ribuan pulau yang sebagiannya masih sulit akses. Namun ada hal yang harus di pelajari dari kuba, dimana sebagai negara yang diembargo oleh Amerika dan beberapa negara Eropa dari semua sektor, tapi Kuba terbukti sukses menjalankan sektor kesehatan. 

Di Kuba Angka Kematian Bayi 6/1000 Lahir Hidup lebih baik dari USA dan di Indonesia 46/1000 Lahir Hidup, Angka Harapan Hidup Kuba 76-80 Tahun sedangkan Indonesia 65-69 Tahun, untuk  Angka Kematian Ibu 41/100.000 KH dan Indonesia Angka Kematian Ibu masih sangat tinggi 350/100.000 KH, Kasus TBC di Kuba tidak termasuk 10 penyakit terbesar sedangkan Indonesia Ranking 3 Terbanyak di dunia. Kejadian demam berdarah (DBD) Kuba dinyatakan bebas, di Indonesia masih menjadi Kejadian Luar biasa Nasional.

Dari perbandingan data-data umum di bidang kesehatan maka Badan Kesehatan Dunia (WHO) mennyatakan bahwa Kuba adalah contoh negara yang menerapkan sistem jaminan kesehatan terbaik di dunia. Sistem kesehatan di Kuba dikenal memberikan layanan terbaik dan efisien. Meski negara komunis di Amerika Latin itu termasuk miskin tapi Kuba berhasil menjamin seluruh rakyatnya punya akses terhadap layanan kesehatan. Para ahli bahkan menyebut kondisi yang dialami Kuba sebagai Cuban Health Paradox atau Paradoks Kesehatan Kuba, karena negara itu miskin tapi rakyatnya termasuk yang paling sehat di dunia.


Revolusi Kesehatan Kuba
Pendididkan Dokter Gratis
Pemerintahan  revolusioner  Kuba menggelontorkan dana untuk membangun sekolah-sekolah kedokteran dan siapapun bisa mendaftar tanpa dipungut biaya sepeser pun. Alhasil, anak-anak dari keluarga miskin pun bisa mengakses pendidikan kedokteran. Dan sebagai konsekuensinya, ilmu kedokteran dan profesi dokter  bukanlah lagi sesuatu yang ekslusif. Saat ini Kuba punya 24 Sekolah Kedokteran di 13 Provinsi, semasa rezim Batista Kuba hanya punya 1 sekolah Kedokteran. 

Saat ini Kuba punya 43 professor kedokteran untuk mengajar di sekolah-sekolah tersebut. Sejak 1959, sudah 109.000 dokter yang dihasilkan Kuba. Alhasil, Kuba punya rasio dokter dibanding jumlah penduduk merupakan tertinggi di dunia: 1 dokter melayani 148 orang. Bandingkan dengan AS: satu dokter melayani 480 orang. Hal lain dari upaya revolusioner Kuba dalam pendidikan Kedokteran adalah Kuba mengeksport Dokter ke luar Negeri. Nilai utama yang di ajarkan di Sekolah Kedokteran Kuba adalah menjadi dokter bukanlah tentang uang tapi tentang kebutuhan untuk membantu orang lain. 

Pelayanan Kesehatan Gratis
Di Kuba semua masyarakatnya di layani secara gratis oleh Negara tanpa membedakan kelas, latar-belakang ekonominya (kaya-miskin), jabatan, ataupun warna kulit semua berhak dan bebas mengakses layanan kesehatan berkualitas, hanya orang-orang tertentu seperti Warga Asing atau pejabat Negara lain yang berobat di Kuba maka di pisahkan sesuai dengan permintaan pasien, karena tidak hanya masalah kesehatan namun masalah keamanan. 

Sedangkan di Indonesia pelayanan kesehatan di bedakan menjadi kelas III, kelas II, kelas I, VIP, VVIP, Pavilium dan banyak istilah lain yang menunjukkan kelas yang berbeda, untuk masalah asuransi kesehatan di bagi dalam beberapa tipe peserta : yang miskin berdasarkan data BPS sebagaian di tanggung Negara, ada juga peserta seperti PNS, TNI/Polri di potong dari Gaji sehingga otomatis menjadi peserta, ada juga peserta yang di jamin oleh perusahan dimana yang bersangkutan bekerja dan yang terakhir adalah peserta mandiri, atau mendaftar sendiri untuk menjadi peserta. Berkat konsistensi negara terhadap sektor kesehatan, pelayanan kesehatan berhasil menjangkau 99% penduduknya. Para dokter tinggal di komunitas yang dilayaninya. Jadi, bukan rakyat yang mendatangi dokter, tapi dokter ada di tengah-tengah rakyat. Sistem kesehatan Kuba didukung oleh dokter-dokter yang punya dedikasi kepada rakyat.

Sistem Kesehatan Kuba
Sistem kesehatan Kuba Secara umum seperti halnya di negara lain mulai dari sistem di tingkat nasional, propinsi, dan kabupaten/kota yang bertanggung jawab dari layanan kesehatan primer hingga tertier. Layanan Kesehatan Primer Pelayanan kesehatan di Negara Kuba dimulai dengan layanan kesehatan primer (primary health care) atau layanan kesehatan tingkat pertama di masyarakat. Layanan kesehatan primer II dimulai dengan menempatkan seorang dokter keluarga yang melayani 100-150 keluarga sebanding 500-750 warga atau mencakup warga satu rukun tetangga (RT) di Indonesia, Struktur tertinggi dari layanan kesehatan primer di Kuba adalah sebuah poliklinik yang melayani sekitar 40.000 penduduk untuk setiap polikilinik. 

 
Layanan kesehatan tertinggi di Kuba berupa layanan kesehatan tertier atau tertiary health care diwujudkan dalam bentuk layanan rumah sakit-rumah sakit nasional dan pusat penelitian kedokteran tingkat tinggi yang mampu memberikan layanan kesehatan bertaraf internasional. Rumah sakit rujukan dan pusat penelitian ini merupakan tanggung jawab badan-badan rumah sakit dan semuanya dalam koordinasi Ministrio Salud Publica atau Departemen Kesehatan Masyarakat. 

Dokter keluarga di Kuba adalah dokter-dokter muda yang telah menjalani pendidikan di fakultas kedokteran lengkap dengan pendidikan profesi dan residensi selama 3 tahun di unit pelayanan kesehatan umum berupa poliklinik atau setingkat puskesmas kecamatan di Indoensia. Dokter keluarga berpraktik di sebuah kantor dokter keluarga yang umumnya berbentuk sebuah rumah berlantai dua; lantai pertama adalah klinik tempat dokter keluarga berpraktik, lantai duanya adalah rumah tinggal dokter bersama keluarganya, dan pada bagian belakang atau samping biasanya dipakai sebagai rumah tinggal para perawat. Saat ini Kuba mempekerjakan sekitar 15.000 lebih dokter keluarga yang berpraktik di seluruh negeri Kuba.
 
Untuk membina dan menjaga kualitas dokter keluarga, maka pada setiap 10 dokter keluarga ditempatkan sebuah Kantor Satuan Tugas Dokter Keluarga. Satuan tugas ini terdiri atas 3 dokter spesialis yaitu spesialis penyakit dalam, spesialis kebidanan dan kandungan, dan spesialis penyakit dalam, serta seorang pekerja sosial masyarakat. Bila dibandingkan dengan pembagian wilayah administrasi di Indonesia, maka cakupan dari satuan tugas dokter keluarga di Kuba sebanding dengan sebuah desa atau kelurahan. 

Fungsi Puskesmas di Kuba adalah untuk promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan penyakit, rehabilitasi, serta pertolongan kedaruratan. Puskesmas bertanggung jawab terhadap 40 ribu penduduk dan merupakan rujukan dari 66 dokter keluarga. Tulang punggung layanan primer di Kuba adalah dokter keluarga yang menjalankan upaya penyuluhan, pencegahan, terapi sederhana, serta kesehatan lingkungan. Jika terdapat kasus yang perlu dirujuk, maka pasien akan di rujuk ke Puskesmas terdekat.  

Dalam tahun terakhir ini, Pemerintah Kuba berupaya untuk melengkapi Puskesmasnya menjadi pusat pelayanan primer yang dapa diandalkan sehingga tidak mengherankan bila di puskesmas dapat dilakukan pemeriksaan endoskopi, test alergi, operasi sederhana, dan berbagai tindakan medis yang diperlukan untuk menolong kedaruratan. Jumlah pasien yang berkunjung ke klinik-klinik penyakit dalam, paru, mata, tht, dan gigi cukup banyak meski mereka hanya datang atas rujukan dokter keluarga, kecuali kasus emergensi. 

Peralatan medis serta obat yang dipergunakan di pelayanan kesehatan di puskesmas ini hampir seluruh produk Kuba. Misalnya alat EKG, reagen test alergi, bahkan obat streptokinase yang di Indonesia harganya dapat mencapai Rp 6 juta untuk sekali pakai juga buatan Kuba. Semua layanan kesehatan di Kuba diberikan secara cuma-cuma. Sekitar 85% kebutuhan alat medis, reagen  laboratorium, dan obat telah dapt dipernuhi sendiri oleh Kuba sehingga mereka dapat menghemat devisa dan tidak tergantung pada suplai dari luar negeri.  

Baca Juga: Masalah Sampah Antara Kesadaran dan Longgarnya Aturan

Untuk peralatan kedokteran yang mereka belum mampu membuatknya sepertu beberpa perlengkapan kedokteran gigi mereka masih mengimpor meskipun harganya cukup mahal apalagi bagi Kuba yang keadaan ekonominya masih memprihatinkan. Namun karena merupakan kebutuhan masyarakat maka peralatan kedokteran itu tetap diadakan. 

Pemeliharaan peralatan kedokteran dilakukan secara cermat oleh tenaga elektro medik yang terlatih, sehingga peralatan  tersebut dapat dipergunakan dalam waktu cukup lama.  Pemeliharaan kebersihan dilakukan secara terartur sehingga meskipun kursi dan meja sudah berusia tua, namun tidak dijumpai adanya debu yang menempel dan perlengkapan kantor terjaga dengan rapih. 

Di Puskesmas yang kami kunjungi ini terdapat 106 pegawai terdiri atas dokter, perawat, tenaga administratif dan pekerja sosial. Sebagian besar dokter adaalah dokter spesialis yang merupakan tenaga bantuan dari rumah sakit. Sebagai contoh dokter penyakit dalam yang melakukan endoskopi bertugas 3 kali hanya seminggu. Namun jumlah tindakan endoskopi selama 1 tahun mencapai 1930 tindakan dan hanya 10% dari pasein yang dikirim dokter keluarga pada endoskopi didapatkan saluran pencernaannya normal. Dengan demikian kemampuan pemeriksaaan enodoskopi untuk menemukan penyakit saluaran cerna di Puskesmas ini tinggi.

Semangat kerja para pegawai amat tinggi dan sistem pengawasan administrasi kepegawaian berlangsung secara baik meskipun menggunakan teknologi yang amat sederhana. Misalnya alat pemantauan kehadiran pegawai belum menggunakan absensi elektronik  cukup mempergunakan lembaran kartu kecil. Namun untuk pengembangan wawasan dan mengakses informasi ilmiah disediakan sarana perpustakaan cetak dan elektronik dengan sambuangan internet yang disedeiakan secara cuma-cuma. 

Sesuai dengan pola penyakit di Kuba yang lebih banyak didominasi oleh penyakit kronik maka tugas utama puskesmas adalah menumbuhkan kebiasaan hidup sehat. Masyarakat diingatkan kembali untuk menerapkan pola hidup sehat. Tugas ini dipermudah dengan tingginya pendidikan masyarakat dan sebagian besar konsep hidup sehat telah dijaarkan di sekolah. Sehingga petuga keehatan tinggal mengingatkan kembali.

Salah satu layanan yang menarik di Puskesmas Kuba adalah rehabilitasi medik. Di Puskesmas tersedia berbagai peralatan rehabilitasi medik, baik berupa peralatan untuk menunjang fungsi gerak, pernafasan, maupun fungsi bicara. Latihan rehabilitasi ini dapat dilakukan di Puskesmas, namun juga seringkali dilakukan di rumah-rumah penduduk dengan bantuan petugas Puskesmas. 

Puskesmas mendukung upaya-upaya yang dilakukan dokter keluarga dalam pencegahan penyakit. Puskesmas mempunyai tim untuk mengunjungi rumah-rumah penduduk untuk membantu dokter keluarga melakukan upaya penanggulangan penyakit menular. Sebagai contoh, tim pemantau jentik nyamuk yang menularkan DBD berkunnjung ke rumah penduduk setiap 12 hari. Tim ini bekerja sama dengan dokter keluarga, murid sekolah, dan perhimpuan wanita. Dengan demikian pemantauan jentik dapat dilakukan setiap hari dan tidak tergantung kepada kehadiran petugas Puskesmas. Hasilnya, sejak tahun 2002 lalu, di Havana tidak pernah lagi didapatkan kasus DBD. 

Layanan Kesehatan Rujukan: Sekunder dan Tertier  Sebagai rujukan dari layanan kesehatan primer atau puskesmas, Pemerintah Kuba menyediakan rumah-rumah sakit. Rumah sakit rujukan pertama atau secondary health care di Kuba berupa rumah sakit yang disediakan bagi masyarakat Kuba yang membutuhkan layanan rawat inap dan rujukan. Pembagian peran administrasi pemerintahan dalam penanganan program dan layanan kesehatan sangat jelas, rumah sakit rujukan pertama di Kuba merupakan tanggung jawab dari pemerintah provinsi sementara puskesmas merupakan tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota. (Ede Surya Darmawan)

Replikasi di Desa Kalaodi
Memulai hal besar di awali dari hal kecil, pohon yang besar juga di mulai dari penyamain bibit, tumbuh dari kecil dan menjadi besar dan seribu langka tentunya di awali dari langkah pertama. Begitulah kata-kata bijak yang sering kita dengar dan kutip, saya juga terinspirasi dari konsep kesehatan yang di terapkan di Kuba, olehnya itu saya ingin membuat suatu upaya kecil di desa Kalaodi untuk mencari formulasi dan bentuk yang cocok untuk kita terapkan di semua desa/kelurahan di Kota Tidore Kepulauan dan Propinsi Maluku Utara.

Baca Juga: DBD dan Efektifitas Fogging

Bukan pasien mencari Petugas Kesehatan tapi Petugas kesehatan mencari pasien.

Aktif Promition
Aktif Protektion
Aktif  Kuratif
Aktif Rehabilitation 

Mengapa kita harus aktif? Sebab masalah kesehatan memiliki External Efek,  Masyarakat yang sakit harus di jemput untuk di obati, apalagi penyakit menular, karena resikonya adalah dapat menularkan ke Orang lain, jika tidak mau berobat maka di tangkap dan diisolasi dan diobati sampai sembuh baru dibebaskan.

Secara umum konsep kerja Kesehatan di Desa/Kelurahan harus memiliki satu fasilitas pelayanan kesehatan yang di dukung oleh tenaga kesehatan di setiap dusun atau RT. Desa Kalaodi sebagai percontohan, karena Kalodi terdapat 4 dusun, maka masing-masing dusun di tempat satu petugas kesehatan (Kola, Dola, Golili dan Sawom) 1 Orang Perawat, 1 orang Bidan, 2 Orang SKM.

Apa saja tugas Petugas Kesehatan
1.  Kunjungan Rumah
2.  Melakukan penyuluhan
3.  Mendukung program Dinkes

Kunjungan Rumah :
a.  Lakukan pendataan
b.  Temukan orang yang sakit, terutama penyakit menular, obati samoai tuntas
c.  Buatkan peta Desa disertai keterangan Rumah penderita maupun Ibu hamil
d.  Tim pemantau jentik nyamuk yang menularkan DBD berkunnjung ke rumah penduduk setiap 12 hari
 
Penyuluhan :
a.  Lakukan pennyuluhan setiap malam atau minimal 1 kali sehari, dimana saja
b.  Penyuluhan di sesuaikan dengan temuan lapangan

Mendukung Program Dinkes :
a.  TB, Malria, Kusta
b.  Pusyandu dan Imunisasi

Laporan :
a.  Menggunakan HP, Foto dan keterangan Foto, minimal 5 kali dalam sehari

Referensi:
Bravo, Ernesto Mario., Development Within Underdevelopment? New trend in Cuban Medicine, 1998.
Calon Rich Warner, PhD, Anglia Ruskin University
Darmawan, Ede Surya dan Samsuridjal Djauzi., Pendidikan di Negara Miskin, opini dalam Harian Republika terbit tanggal 3 Juli 2004 
Darmawan, Ede Surya., Memperkuat Layanan Puskesmas, artikel dalam Harian Suara Pembaruan terbit 11 Juli 2004.
Departemen Kesehatan RI, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 131/Menkes/SK/II/2004 tentang Sistem Kesehatan Nasional
WHO: World Health Report 2000, Health System: Improving Performance.

0 Response to "Cuban Health Paradox "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel