Gizi Prakonsepsi: Mencegah Stunting Sejak Menjadi Calon Pengantin

Prof. Dr. Sri Sumarmi, S,KM., M.,Si
Guru Besar SKM Murni Perempuan Pertama di Indonesia

Kata prakonsepsi mungkin masih menjadi kata yang asing dan belum dipahami oleh sebagian besar masyarakat, namun kata stunting kini mulai akrab pada telinga masyarakat luas. Pada kesempatan ini, saya akan mencoba mengaitkan keduanya dengan calon pengantin. Prakonsepsi berasal dari kata pra dan konsepsi. Pra artinya “sebelum”, sedangkan konsepsi “peristiwa bersatunyasel sperma dan sel telur yang mengawali terjadinya proses kehamilan”. Oleh karena itu, gizi prakonsepsi membahas tentang pentingnya pemenuhan kebutuhan zat gizi untuk mempersiapkan kehamilan.

Sejak tahun 2013, organisasi kesehatan dunia (WHO) mulai menekankan pentingnya intervensi gizi dan pelayanan kesehatan prakonsepsi (preconception care). Disisi lain, masalah stunting kini menjadi salah satu focus perhatian pemerintah Indonesia dalam upaya penanganan masalah gizi untuk menghasilkan sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan maju. Stunting adalah kondisi tubuh pendek, yang terjadi karena gagal tumbuh (growth failure). 

Mengidentifikasi anak stunting dapat dilakukan dengan mengukur panjang badan atau tinggi badan seorang anak, lalu dibandingkan dengan ukuran panjang badan atau tinggi badan standarpada usianya. Upaya pemerintah Indonesia dalam mengatasi masalah stunting perlu mendapatkan apresiasi yang tinggi, karena dalam kurun waktu 5 tahun prevalensi stunting turun dari37,2% di tahun 2013, menjadi 30,8%pada tahun 2018 atau terjadi penurunansekitar 7%. Namun demikian prevalensi ini masih tergolong tinggi.

Baca Juga: Tidak Ada Yang Lebih Penting Dari Yang Lain (Polemik Perawat Pembantu Dokter)

Masalah stunting sesungguhnya dapat dicegah. Berbagai program intervensi sensitive maupun spesifik dapat dilakukan sebagai suatu program pencegahanstunting apabila diberikan kepada sasaran yang tepat. Dalam upaya pencengahan stunting, sasaran prioritas masih focus pada kelompok ibu hamil dn ibu menyusui  serta pada anak usia kurang dari dua tahun (baduta). Sasaran ini dimaksud sebagai sasaran program percepatan perbaikan gizi pada 1000 (seribu) hari pertama kehidupan, gerakan 1000 HPK.

Ada catatan dalam implementasi gerakan penyelamatan 1000 HPK di Indonesia, yang mungkin menjadi salah satu pemikiran kritis untuk menyempurnakan gerakan yang bertujuan mulia ini. Mengacu definisi 1000 HPK, bahwa kehidupan dimulai dari saat konsepsi, apabila sasaran prioritas adalah ibu hamil maka akan ada periode yang terlewatkan dan belum menjadi bagian yang dijabarkan dalam implementasi program penyelamatan 1000 HPK, yaitu periode awal kehamilan. 

Pada masa awal kehamilan adalah masa kritis untuk menentukan keberhasilan kehamilan, karena proses pemrograman janin (fetal programming) terutama terjadi pada awal kehamilan. Teori Barker, yang dikenal dengan fetal origin hypothesis menjelaskan bahwa kondisi yang buruk saat dalam kandungan seperti membunuh anak secara perlahan, killing mesoftly (almod & currie 2011). Apabila program intervensi tidak dapat menjangkau awal kehamilan, maka bagaimana mungkin menyelamatkan 1000 hari pertama kehidupan tanpa intervensi gizi prakonsepsi?

Baca Juga: Hasil Konferensi Alma Ata dan Piagam Ottawa (Sebuah Tinjauan Promosi Kesehatan)

Maka prakonsepsi merupakan tahap penting untuk menuntukan kehamilan yang sukses. Periode kritis untuk menentukan kehamilan sehat serta kualitas bayi yang dilahirkan adalah periode diseputar moment konsepsi atau disebut perikonsepsi (2-4 bulan sebelum hamil, sampai dengan 4 bulan pertama kehamilan). Proses konsepsi merupakan moment reproduksi sangat penting yang mengawali terjadinya kehamilan. Pada awal kehamilan terjadi tahapan yang disebut implantasi (peristiwa menempelnya calon janin kedinding Rahim) dan peristiwa plasentasi atau terbentuknya plasenta. 

Keberhasilan dua peristiwa ini sangat menentukan perkembangan janin selama dalam Rahim ibu. Apabila kesuksesan kehamilan ditentukan oleh tahap implatansi dan plasentasi maka intervensi pada masa prakonsepsi dapat menjadi window of opportunity bagi keberhasilan suatu program intervensi. Keberhasilan suatu program intervensi perlu memperhatikan timing yang tepat.

Serangkaian peristiwa yang terjadi di dalam Rahim ibu diawal kehamilan, dimulai saat konsepsi hingga minggu ke-8 kehamilan sangat sulit dijangkau oleh program. Mengapa seperti itu? Apabila intervensi diberikan dengan sasaran ibu hamil, maka paling cepat intervensi tersebut diterima pada saat usia kehamilannya memasuki minggu ke-4atau ke-5, karena pada saat seseorang terdeteksi hamil, sesungguhnya usia kehamilannya telah memasuki minggu ke-4 atau minggu ke-5. Dengan demikian, periode kritis awal kehamilan saat pembentukkan organ penting terlewatkan begitu saja tanpa intervensi. Oleh karena tidak ada yang tahu seseorang akan hamil, maka intervensi gizi seharusnya diberikan sejak sebelum hamil.

Baca Juga: 10 Alasan Untuk Kamu Berhenti Merokok Dari Sekarang

Apa yang terjadi pada awal kehamilan sesungguhnya merupakan proses programming bagi kehidupan individu kelak dikemudian hari. Setelah konsepsi berjalan dengan sukses, selanjutnya terjadi beberapa tahap perkembangan janin didalam kandungan. Tahap implantasi merupakan tahap kritis dimana calon janin dapat terhubung secara intim dengan permukaan dinding Rahim (endometrium) untuk membentuk plasenta. Inilah yang disebut sebagai window of implantation, terjadi sekitar 6-7 hari setelah konsepsi. 

Tahap plasentasi sangat ditentukan karena adanya proses remodeling arteri spiralis, suatu even yang sangat krusial dalam keberhasilan proses plasentasi dan pengadaan suplai darah yang cukup untuk perkembangan janin. Plasenta adalah organ sebagai tempat dua sirkulasi,sirkulasi darah maternal dan darah janin saling melintas. Berkebalikan dengan pertumbuhan janin, plasenta tumbuh sangat cepat pada awal kehamilan dan mencapai ukuran maksimum sekitar minggu ke-12. Bermodal plasenta dengan ukuran yang lebih besar, maka akan menjamin transfer zat gizi dari darah maternal yang lebih baik, sehingga janin memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang janin yang sempurna, maka dapat mencegah terjadinya neonatal stunting (Sumarmi, et.al., 2018)

Calon pengantin adalah sasaran yang paling tepat untuk intervensi gizi prakonsepsi, karena mereka adalah calon ibu hamil. Pencegahan adalah upaya yang dilakukan sebelum peristiwa terjadi. Ambil paying sebelum hujan, intervensi gizi sebelum hamil. Untuk itulah keberadaan gizi prakonsepsi sangat penting sebagai upaya preventif dalam mengatasi kesehatan ibu dan anak, termasuk pencegahan stunting. #Cegah Stunting Sejak Catin***

0 Response to "Gizi Prakonsepsi: Mencegah Stunting Sejak Menjadi Calon Pengantin"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel