Apa Itu Statistik dan Kenapa Harus Statistik


Pada awal perkembangan ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan lebih menitikberatkan pada pijakan logika, benar menurut logika maka benar menurut ilmu. Awal mula ilmu berasal dari filsafat Yunani Kuno, dimana pada era ini banyak sekali dikenal para filosof jagoan yang sampai sekarang masih banyak diingat orang seperti Plato, Socrates dan Aristoteles, era ini tenggelam seiring dengan tenggelamnya jaman keemasan berfikir masa itu, diganti dengan era kekuasaan, sampai akhirnya Socrates dihukum mati dengan cara meminum racun. 

Era kekuasaan ini bisa dipahami, karena ketika itu terjadi perebutan kekuasaan antara Athena dan Spartan, sehingga semua sumber daya yang ada digunakan untuk memenangkan perang, sehingga khasanah keilmuan yang dibangun para filosof inipun tenggelam.

Redupnya dunia pemikiran ini sangat panjang sampai pada akhirnya datang masa kejayaan Islam melalui dinasti Abbasiyah di Baghdad dan dinasti Umayyah di Barat Spanyol, yang bekasnya masih tersisa sampai sekarang. 

Baca Juga: Ruang Lingkup Epidemiologi Kesehatan Masyarakat

Era ini dikenal dengan jaman keemasan peradaban Islam sekitar abad ke-9 sampai abad ke-12 M yang sudah memadukan filsafat Yunani dengan percobaan-percobaan ilmiah untuk membuktikan dugaan-dugaan alamiah yang disaksikan. Kejayaan Islam ini kemudian masuk ke Eropa dengan kontak budaya antara Eropa dengan kerajaan Andalusia di Spanyol yang menjadi pusat ilmu pengetahuan bagi Eropa.

Kontak budaya inilah yang kemudian menjadikan era baru bagi Eropa untuk memeluk madzab baru yang bernama ilmu pengetahuan, meskipun pada awalnya hanya bersifat filosofis, namun lambat laun Eropa sudah terwarnai dengan cahaya ilmu pengetahuan.

Kajian filosofis ini akhirnya menemukan banyak orang, karena tidak ada ujung pangkalnya dan dimensinya sangat luas untuk ditafsirkan dalam kaidah ilmiah yang berlaku secara universal, kejenuhan ini tersurat dalam kata-kata Rene Descartes “sudah saatnya kita keluar dari logika imajinatif Aristoteles, dan memulai manusia menjawab permasalahannya sendiri, misal kemiskinan, kelaparan dan lain-lain”

Baca Juga: Pengobatan Tuntas TBC Tuntas

Lontaran Rene Descartes ini kemudian diikuti ilmuwan lainnya yang berusaha untuk memecahkan masalah manusia dalam tataran praktis, dimulailah uji coba ilmiah dari fenomena alam, kita kenal Newton, Pascal, Boyle, dan lain-lain.

Percobaan alamiah ini menghasilkan rumusan universal, yang berlaku secara umum dimanapun berada, hal ini dapat dilakukan karena gejala yang dirumuskan bersifat gejala tunggal (deterministik), sehingga kesimpulan bersifat universal dimanapun berada. Era inipun berlalu dan hampir berakhir pada abad ke-20, karena penemuan-penemuan alamiah secara universal hampir tidak terdengar lagi, terakhir yang spektakuler adalah pemetaan genetik manusia pada awal abad ke-21.

Era selanjutnya manusia sudah mulai bertanya tentang kemanfaatan ilmu sebagai bentuk aplikasi dari prinsip-prinsip dasar ilmu yang sudah dirumuskan pada abad berikutnya, mulailah berlaku era pragmatisme sebagai perpaduan antara paham keilmuan dan kemanfaatan bagi manusia.


Baca Juga: Gizi Prakonsepsi: Mencegah Stunting Sejak Menjadi Calon Pengantin

Fenomena yang berkembang kemudian, bertumpu pada pertanyaan bagaimana kalau gejala yang ditangkap secara indrawi mempunyai gejala yang berubah-ubah dari waktu kewaktu dan bersifat sangat temporer, tergantung pada dimensi tempat dan waktu, gejala ini kemudian dikenal dengan gejala Stochastic.

Pada tataran praktis masalah manusia juga bergerak tak beraturan dan sulit diduga (random walk) atau dengan kata lain bergerak secara acak, gejala seperti ini amat sangat tidak mungkin ditarik dalam satu rumusan yang pasti dan dapat digunakan secara umum, tapi manusia harus dapat merumuskan fenomena ini dalam suatu rumusan yang dapat dikomunikasikan kepada orang lain, maka kemudian manusia mencari rumusan kaidah yang bisa disepakati secara umum, jawabnya kemudian orang lari kepada kebolehjadian (probability) inilah yang kemudian menjadi prinsip dasar statistik.

Dari ilustrasi di atas dapat dibuat kesimpulan dalam bicara ruang lingkup statistik, dimana hanya membicarakan suatu gejala yang berubah-ubah, sehingga kesimpulan yang diperoleh bukan kebenaran 100%, tapi merupakan kebenaran relatif yang boleh jadi berubah seiring dengan perubahan dimensi tempat dan waktunya, dari sini muncul suatu klausul bahwa “kebenaran ilmu relatif, tidak mutlak”. 

Baca Juga: Tidak Ada Yang Lebih Penting Dari Yang Lain (Polemik Perawat Pembantu Dokter)

Hal ini disebabkan fakta yang diamati oleh orang lain akan melahirkan kesimpulan yang berbeda ketika mengamati fenomena yang sama pada dimensi yang berbeda, kesimpulan yang boleh diambil secara pragmatis kemudian “ilmu bergerak dalam era ketidakpastian (uncertinity)”. 

Dari sini boleh jadi ada hukum statistik yang disebut “satu-satunya kepastian adalah ketidakpastian” inilah barangkali yang akan terjadi di masa depan, sehingga ilmu akan bergerak sangat liar ke arah bebas nilai dan akan semakin liar jika ilmu hanya mengabdi pada pemilik modal, kalau ini yang terjadi maka nilai dimasa yang akan datang hanya milik pemilik modal.

Untuk mengatasi ini maka agama akan dapat menjadi salah satu bingkai moral bagi ilmuwan dimana yang akan datang, meskipun manusia juga bisa merumuskan nilai-nilai moral sendiri berdasarkan nilai yang dianut oleh masyarakatnya.

0 Response to "Apa Itu Statistik dan Kenapa Harus Statistik"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel