Pemberdayan Masyarkat dengan Kearifan Lokal

Yazhar Asis, SKM
Dengan meningkatkan taraf hiduh masyarkat diharapkan derajat kesehatan masyarkat dapat ditingkatkan
Seiring berkembangnya kebutuhan sandang dan pangan di era milenium ini, kita seakan di paksa untuk terus berinovasi  dalam berbagai kreativitas. Ditengah anjloknya harga komoditi kopra di Maluku Utara beberapa waktu lalu hingga saat ini, hal ini dengan serius memaksa masyarakat dengan kesadaran dan penuh tanggung jawab, menghibahkan pengalamannya untuk sejumlah kearifan lokal.

saat ini masyarakat tepatnya desa mateketen berupaya membentuk sebuah komunitas  yang menghimpun ibu rumah tangga, dengan sejumlah keahlian yang di miliki komunitas ini berhasil menghasilkan usaha kecil yang dapat menopang kebutuhan sandang & pangan. Tidak banyak yang di hasilkan, komunitas tersebut hanyalah komunitas yang di bangun dengan prinsip gotong royong, selama usaha ini berjalan pada umumnya hanya sebatas kelompok biasa.

Usaha bersama yang di upayakan belum mampu di produksi dalam jumlah  banyak namun hanya sebatas untuk di konsumsi saja, komunitas yang menghimpun ibu-ibu yang berjumlah sekitar 5-10 orang ini bertujuan untuk berusaha melakukan pemanfaatan kelapa bukan hanya sebagai kopra, namun di olah lagi menjadi minyak kelapa ala masyarakat Mateketen Kec.Makian Barat.

Baca juga: Racun Galafea Antara Mitos Dan Fakta

dengan cara pembuatannya masih menganggukkan cara-cara yang secara tradisional, proses awal dari pembuatan itu semua adalah per orang ibu rumah tangga di berikan tanggung jawab untuk mengumpulkan kelapa sebanyak 20 buah dan di kumpul hingga berjumlah banyak sekitar dua ratusan biji kelapa, kemudian di parut dan hasil kelapa yang di parut di saring kemudian di ambil santannya setelahnya di diamkan selama sekitar 1x24 jam (satu hari), setelah itu di panaskan dan di saring busa santan kelapa dan dipisahkan dari tempatnya.

setelah itu di dinginkan kurang lebih lima atau enam jam. Setelah beberapa jam di dinginkan barulah kemudian buah kelapa yang telah di kelola menjadi minyak tersebut di masukkan dalam cergen untuk selanjutnya di konsumsi oleh masyarakat setempat sesuai kebutuhannya.

Hasil pengolahan.

Kebiasaan ibu-ibu dalam mengelola kelapa hingga menjadi minyak goreng di mulai tanpa ada proses pendidikan dan  pelatihan secara resmi dari lembaga manapun, namun kebanyakan keahlian mereka terlatih secara turun-temurun, sebagamana di sampaikan oleh salah seorang dari anggota komunitas tersebut. Upaya ibu-ibu tersebut terbangun dari kesadaran akan mahalnya kebutuhan minyak di pasaran serta tidak tersedianya pasar di lingkungan sekitar.

Baca Juga: Salah Satu Alasan Dilarangnya Sakit

Tidak seperti Komunitas lainnya yang telah berhasil memasarkan produk buatannya ke dunia pasar lokal maupun nasional, komunitas ibu-ibu yang berasal dari desa mateketen kec.Makian Barat ini belum berhasil memasarkan produknya di sebabkan belum begitu terorganisir dengan baik usaha ini, selain itu minyak goreng yang di hasilkan hanyalah di upayakan untuk kebutuhan sehari-hari saja.

Komunitas ini berharap ada perhatian lebih dari pemerintah baik dari desa hingga daerah, serta pemerintah mampu membaca peluang usaha yang telah dilakukan oleh ibu-ibu ini, mereka tidak berharap lebih hanya bagi mereka harusnya kelompok-kelompok ini bisa di perhatikan sebaik baiknya untuk dapat menopang kemajuan desa maupun daerah tanpa harus bergantung pada impor minyak dan yang lainnya namun harus sebaliknya.

Sampai saat ini usahanya ibu-ibu ini hanya sebatas terlihat berjalan di tempat belum ada tanda-tanda dorongan lagi ke depan. Namun Semoga dengan adanya semangat ibu-ibu ini dapat membawa semangat baru bagi usaha dan kemajuan bagi perekonomian desa.

0 Response to "Pemberdayan Masyarkat dengan Kearifan Lokal"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel