Pentingnya Cegah Ganngguan Jiwa Pada Cakada

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di indonesia tentunya istilah Demokrasi bukan lagi menjadi barang baru, Demokrasi yang berarti bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak yang setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. 

Demokrasi mengizinkan warga Negara berpartisipasi baik secara langsung maupun melalui perwakilan dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum. Singkatnya Demokrasi adalah Pemerintahan dari Rakyat untuk Rakyat (Hans Kelsen). 

Untuk menyatakan konsep Demokrasi  dalam suatu Negara bahkan daerah (Desentralisasi), diejwantahkanlah Pemilihan Umum yang di laksanakan selama 5 tahun sekali.

Yazhar Asis, Pemerhati Kesehatan
Dalam pesta Demokrasi inilah kemudian setiap orang berhak mengajukan diri untuk dipilih dan memilih calon Pemimpin yang sesuai dengan keinginannya, agar selanjutnya Memimpin suatu daerah bahkan Negara, 

Dalam perhelatan momentum pemilihan Calon kepala daerah (CAKADA) yang di laksanakan 5 tahun sekali, tentunya punya pengaruh sangat besar bagi perkembangan suatu daerah tersebut kedepan, namun menarikanya seiring perkembangan Pesta Demokrasi, 

Sering kita jumpai banyak orang yang mengalami stres ringan hingga stres berat, hal ini tidak hanya dirasakan tim pemenangan akan tetapi juga bahkan Bakal Calon yang tak sanggup menerima konsekuensi dari pertarungan politis untuk merebut kursi Kepemimpinan tersebut. 

Hal ini juga berpotensi memicu terjadinya gangguan kesehatan jiwa mapun tekanan batin yang luar biasa. hal ini Bukan perkara mudah, kematian juga dapat terjadi akibat dari kegagalan persaingan politis tersebut. 

Sebagai contoh kasus di Cirebon sebanyak 15 orang Caleg mengindap gejala gangguan jiwa dan melalukan pengobatan spiritual kepada Uztazah Ujang bustomi seorang ulama local yang tinggal di sinarancang, mundu, Cirebon. 

Selain itu di Sumatra utara Caleg tersebut adalah pahala sianipar, Caleg dari partai PDIP, yang berdiam di kecamatan medan kota, mengalmi stres berat pasca pileg dan memilih Bunuh Diri dengan cara meminum obat serangga di dalam kamar rumahnya.

Hal tersebut tidak menutup kemungkinan bisa saja terjadi lagi di pesta Demokrasi selajutnya, secara Sikologi hal tersebut  cukup berpengaruh sebagaimana kata seorang analis management berkebangsaan jepang (Nakajima Takeshi) menyatakan pikiran yang datang akibat kesalahan fatal yang di lakukan di hari kemarin akan berbentuk stress negative, 

Manakala itu tetap mengganggu aktivitas kita hari ini, akibatnya kita tidak bisa berpikir jernih, dan bawaannya selalu negative, menjadi tidak bergairah. Hal inipun bisa jadi berwujud stress negative, membuat diri jadi tidak bersemangat menghadapi aktivitas selanjutnya.

Olehnya cukup penting tetap menjaga kewarasan berpikir, disetiap bakal calon yang gagal dalam bertarung, sehingga tidak memuculkan opsi kekecewaan yang membabi buta, 

Tentunya dalam momentum pemilu segala pengorbanan baik materi maupun do’a serta upaya telah di lakukan oleh Bakal Calon, ini kemudian membuatnya harus berpikir dua kali lebih cepat dalam managmen pikiran. 

Namun sekiranya Stress negative pun masih mungkin di ubah menjadi stress positif, dengan pikiran positif itu akan memacu manusianya menjadi lebih baik. 

Bgmna caranya agar tetap tenang dalam situasi ini, tentunya peran keluarga sangat penting dalam mencegah Hal serupa di atas terulang lagi, 

meski kita tau secara bersama bahwa dalam tahapan pencalonan, juga telah dilakukan TES MMPI (minnesota multipasace personality inventory: inventaris kepribadian) pada tes ini terdiri dari 504 pertanyaan yang harus di jawab dengan YA atau TIDAK dalam rentang waktu 2 jam setelah itu hasil tes di uji oleh computer yang menghasilkan gambaran kepribadian para Cakada. 

Perlu di perhatikan potensi Cakada stres adalah Cakada yang baru terjun dalam dunia politik sehingga gampang dapat mengalami depresi, stress ringgan, hingga stress berat. 

Cakada yang baru di dunia politik akan mengalami gangguan kesehatan jiwa sebab Cakada belum bisa menerima kekalahannya. 

Sedikit membaca dinamika tersebut, bahwa Untuk mencegah secara dini merebaknya para calon mengalami gangguan kesehatan jiwa, pihak keluarga harus dapat memantau bila para Cakada mengalami perubahan sikap dalam aktifitasnya sehari-hari, seperti susah tidur, tidak nafsu makan, menjadi pemarah, dan suka menyendiri.

Jika dalam waktu tiga hari Cakada masih mengalami gangguan jiwa maka pihak keluarga harus membawanya ke rumah sakit  jiwa, agar tidak sampai menderita depresi berat, misalnya rasa ingin bunuh diri. 

Dan Model dari perawatan rumah sakit jiwa berupa pendekatan obat-obatan dan/atau pendekatan keagamaan semoga dapat membantu serta membuatnya kembali berpikir lebih baik lagi.***

0 Response to "Pentingnya Cegah Ganngguan Jiwa Pada Cakada"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

loading...

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...