Determinan Stunting Penting Untuk Diketahui !.

Stunting adalah salah satu masalah gizi yang berdampak buruk terhadap kualitas hidup anak dalam mencapai titik tumbuh kembang yang optimal sesuai potensi genetiknya. Stunting dapat menghambat proses tumbuh kembang pada balita. Chilhood stunting atau tubuh pendek pada masa anak-anak merupakan akibat kekurangan gizi kronis atau kegagalan pertumbuhan di masa lalu dan digunakan sebagai indikator jangka panjang untuk gizi kurang pada anak.

Untuk itu sangat penting  mengetahui Determinan Stunting agar tindakan pencegahan atau antisipasi dapat dilakukan secara dini.
Faktor Zat Gizi.
Asupan zat gizi merupakan faktor yang langsung mempengaruhi keadaan status gizi seseorang. Faktor gizi yang mempengaruhi kejadian stunted terutama adalah asupan energi dan protein, Energi diperoleh dari zat gizi makro yaitu karbohidrat, protein dan lemak.

Dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa jumlah anak balita pendek (24-59 bulan) yang mengalami defisit energi lebih banyak dibandingkan dengan anak balita yang normal. Demikian juga anak balita pendek yang mengalami defisit protein lebih banyak dibandingkan dengan anak balita yang normal. Perbedaan defisit energi dan protein pada anak balita cukup signifikan menurut status gizi.

Faktor ASI dan MP ASI
Tujuan pemberian gizi yang baik adalah tumbuh kembang anak yang adekuat. Kita sudah mengenal dengan baik keadaan ini bergantung bukan hanya pada asupan gizi yang memadai tetapi juga pada kesehatan dan kesejahteraan psikososial. Oleh karena itu, pemberian ASI merupakan praktik yang unik dan bukan hanya memberikan asupan nutrien dan energi yang memadai, tetapi juga asuhan psikososial melalui pembentukan ikatan kasih sayang dengan ibu dan kesehatan melalui unsur imunologik yang ada pada ASI.

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada bayi sangat bermanfaat dalam memenuhi kecukupan gizi anak balita. ASI merupakan sumber zat gizi terbaik bagi bayi karena kandungan gizinya lengkap dan seimbang, selain itu komposisinya sangat ideal bagi proses tumbuh kembang anak. Penelitian telah membuktikan bahwa peningkatan pemberian ASI dapat menurunkan risiko penyakit diare dan infeksi pernafasan akut.

Penelitian yang di Nepal mendapatkan hasil bahwa anak yang tidak diberi ASI secara eksklusif berisiko 6,90 kali menderita stunting dibandingkan dengan yang diberi ASI eksklusif. Selain itu bahwa pemberian MP-ASI kurang dari empat kali dalam sehari juga merupakan faktor risiko terjadinya stunting pada anak.
Faktor Status Kelahiran.
Proses untuk menjadi seorang anak bertubuh pendek – yang disebut kegagalan pertumbuhan (growth faltering) - dimulai dalam dalam rahim, hingga usia dua tahun. Pada saat anak melewati usia dua tahun, sudah terlambat untuk memperbaiki kerusakan pada tahun-tahun awal.

Sebuah studi prodpektif menemukan bahwa baik untuk bayi laki-laki maupun perempuan, terdapat perbedaan panjang badan yang bermakna antara kelompok normal dan prematur. Penelitian ini diikuti selama waktu 12 bulan sejak lahir. Pada umur 12 bulan kelompok BBLR (prematur, IUGR API dan IUGR LPI) tidak mencapai panjang badan yang dicapai oleh kelompok normal, meskipun kelompok normal sendiri tidak bertumbuh optimal. Dengan demikian catch up growth (kejar tumbuh) pada kelompok BBLR tidak memadai.
 
Faktor Jenis Kelamin.
Jenis kelamin merupakan salah satu faktor risiko terjadinya stunting sebagaimana dalam sebuah penelitian menemukan bahwa anak berjenis kelamin laki-laki yang berusia 0-23 bulan lebih berisiko menderita stunting dibandingkan dengan anak berjenis kelamin perempuan. Demikian pula halnya pada anak berusia 0-59 bulan.

Faktor Umur.
Pertumbuhan tubuh yang baik dapat mencerminkan perkembangan status gizi yang baik. Pertumbuhan ini berjalan terus menerus mengikuti perjalanan waktu atau pertambahan umur anak. Anak memiliki ukuran tubuh yang berbeda-beda pada umur-umur tertentu. Ukuran tubuh yang beragam pada anak-anak dapat ditentukan oleh umur anak.

Masa balita merupakan dasar pembentukan kepribadian anak sehingga diperlukan perhatian khusus. Umur merupakan faktor gizi internal yang menentukan bahwa pada umur di bawah 6 bulan kebanyakan bayi masih dalam keadaan status yang baik sedangkan golongan umur setelah 6 bulan jumlah balita yang berstatus gizi baik tampak jelas menurun sampai 50%.
 Faktor Jumlah Anggota Keluarga.
Ketahanan pangan di tingkat rumah tangga sangat tergantung dari cukup tidaknya pangan dikonsumsi oleh setiap anggota rumah tangga untuk mencapai gizi baik dan hidup sehat. Berdasarkan hal ini maka jumlah anggota keluarga perlu menjadi kajian dalam hal penyebab stunting pada anak sekolah.

Dari Pemantauan Konsumsi Gizi tahun 1995 – 1998 mendapatkan hasil bahwa tingkat konsumsi pangan yang memburuk pada rumah tangga yang beranggota 6 orang atau lebih. Pada rumah tangga yang beranggota 3 –5 orang rata-j intake energi dan protein menjadi semakin berkurang pada rumah tangga yang beranggota 6 atau lebih.

Faktor Pendidikan Orang Tua
Tingkat pendidikan dan intelengensi ibu yang tinggi dapat bertindak sebagai faktor protektif yang mengurangi keadaan gizi kurang dalam awal usia anak-anak terhadap perkembangan anak. Sebaliknya, kondisi gizi yang sama cenderung menimbulkan efek yang lebih buruk terhadap perkembangan anak jika ibunya buta huruf atau mempunyai pendidikan yang rendah.

Hasil Riskesdas 2010 menunjukkah bahwa pendidikan ayah ternyata berdampak pada status ekonomi keluarga. Selain itu kepala keluarga dengan pendidikan SMP, pekerjaan tani, nelayan dan buruh serta status ekonomi paling rendah sangat berhubungan dengan tingginya prevalensi balita pendek.

Artinya faktor pendidikian yang berdampak pada status ekonomi keluarga sangat terkait dengan kejadian balita pendek. Keluarga yang berpendidikan akan memiliki kemampuan untuk memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan, sehingga lebih terakses terhadap informasi khususnya yang berkaitan dengan kesehatan dan gizi keluarganya.
Baca Juga: Bidan Penentu Keberhasilan Program Kesehatan.
Faktor Pendapatan Keluarga
Selain kurang energi protein (KEP) sebagai penyebab langsung kondisi badan anak yang pendek, faktor lainnya yang menjadi penyebab adalah faktor sosial ekonomi sebagai faktor tidak langsung. keterkaitan yang erat antara status gizi balita dengan pendapatan keluarga. Makin rendah pendapatan suatu keluarga maka semakin besar peluang keluarga tersebut mempunyai balita yang berstatus Kurang Energi Protein (KEP).

Pendapatan riil suatu rumah tangga merupakan salah satu faktor yang menentukan konsumsi makanan keluarga. Disamping itu konsumsi makanan keluarga sangat dipengaruhi oleh harga pangan dan non pangan.

Faktor Pekerjaan Orang Tua
Pekerjaan merupakan faktor penting dalam menentukan kualitas dan kuantitas pangan, karena pekerjaan berhubungan dengan pendapatan. Terdapat asosiasi antara pendapatan dengan gizi, apabila pendapatan meningkat maka kesehatan dan masalah keluarga yang berkaitan dengan gizi akan mengalami perbaikan. Faktor ibu yang bekerja belum dapat berperan sebagai penyebab utama masalah gizi pada anak, namun pekerjaan ini lebih disebut sebagai faktor yang mempengaruhi dalam pemberian makanan, zat gizi, dan pengasuhan atau perawatan anak.

Pekerjaan ibu berkaitan dengan pola asuh anak dan status ekonomi keluarga. Salah satu dampak negatif yang ditimbulkan sebagai akibat dari ibu yang bekerja di luar rumah adalah ketelantaran anak dan anak tidak terawat, sebab anak balita sangat bergantung pada pengasuhnya atau anggota keluarga yang lain.

Ibu yang bekerja di luar rumah cenderung memiliki waktu yang lebih terbatas untuk melaksanakan tugas rumah tangga dibandingkan ibu yang tidak bekerja, oleh karena itu pola pengasuhan anak akan berpengaruh dan pada akhirnya pertumbuhan dan perkembangan anak juga akan terganggu.*** 

Baca Juga:

0 Response to "Determinan Stunting Penting Untuk Diketahui !."

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel