Covid-19 Maluku Utara Dalam Kajian Epidemiolog

Covid-19 dikategorikan sebagai New Emerging Virus. Virus emerging selanjutnya sangat sulit untuk diprediksi asal atau sumber penularannya, atau dari mana akan mulai menyebar. 

Yang pasti akan terjadi, keterlambatan awal dalam mengenali virus emerging, pengaruh serius pada perjalanan dan perdagangan, reaksi masyarakat: cemas, bingung, panik, dan akan di ”mainkan” oleh media dan terbukti hari ini kita di Maluku Utara banyak kasus mulai terdeteksi, 

Ada kelompok masyarakat yang reaksinya menolak tempat tertentu yang dijadikan lokasi karantina karena bagi mereka ini adalah ancaman jika menerima lokasi tersebut dijadikan tempat karantina. 

Maluku Utara Kasus terconfirm positif pertama kali dilaporkan tanggal 23 maret 2020 sejumlah 1 kasus (yang disebut kasus 01), kemudian tanggal 8 april kasus positif bertambah menjadi 2 kasus, tanggal 15 april menjadi 4 kasus,

Tanggal 22 april menjadi 12 kasus, 23 april  14 kasus dan tanggal 26 april naik menjadi 26 kasus terkonfirmasi positif dan hingga tanggal 21 Mei kita suda mengoleksi 97 kasus terconfirm positif. Jumlah ini diprediksi akan meningkat seiring dengan mobilitas penduduk yang kian padat. 

Keadaan ini menunjukan lonjakan kasus yang cukup cepat. Bahkan analisa pakar Epidemiolog UNHAS Prof. Dr. Ridwan Amiruddin, Msc.PH, Maluku Utara akan mencapai puncak tanggal 17 Juni 2020 dengan prediksi kasus sebanyak 574 kasus jika tidak ada langkah-langka promotif dan preventif (semoga kita tidak mencapai angka tersebut). 

Maluku Utara sendiri berdasarkan data yang dikumpulkan/dikaji oleh Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia Cabang Provinsi Maluku Utara (PAEI Malut) sampai tanggal 21 Mei 2020 menggambarkan trend yang signifikan baik ODP, PDP, OTG serta terutama pada data kasus terconfirm (+).

Baca Juga: Covid19 Dan Penyesuaian Dalam Bekerja New Normal

Data ODP
Data Orang Dalam Pemantauan (ODP) terjadi peningkatan yang sangat signifikan di tanggal 27 Maret sampai 9 April 2020 dengan jumlah kasus 385 orang, tapi kemudian menurun sampai tanggal 21 Mei dengan jumlah ODP sebanyak 108 orang, nah Penurunan ini menurut analisa kami karena pemerintah mulai menutup akses transportasi baik udara maupun laut antar kab/kota sehingga mobilitas masyarakat menurun

Data Orang Dalam Pemantauan (PDP)
Jika kita lihat Data PDP, menunjukan peningkatan. Hingga tanggal 21 Mei pasien yang di rawat di RSUD Chasan Boesoirie Ternate sejumlah 16 orang. Bertambahnya Kasus PDP ini seiring dengan tracking kontak positif dan surveilans yang ketat oleh petugas surveilans.

Data Orang Tanpa Gejala (OTG)
Meningkatnya data OTG diprediksi karena ketatnya tracking kepada kasus terconfirmasi (+). Hingga tanggal 21 Mei OTG suda mencapai 904 orang. Angka yang menunjukan bila tidak ada tindakan preventif kita menunggu ledakan kasus yang besar. 

Data Terconfirm Positif (+)
Kemampuan Laboratorium dalam pemeriksaan specimen sangat berpengaruh terhadap kasus positif. Periode tanggal 23 Maret sampai 13 Mei 2020 pemeriksaan specimen diluar Maluku utara, sehingga nampak kasus positif tidak terconfirm setiap hari, sedangkan tanggal 15 sampai 21 Mei pemeriksaan specimen dapat dilakukan di RSUD Chasan Boesoirie Ternate (TCM) sehingga nampak setiap hari terconfirm positif. 

Dalam ilmu Epidemiology Surveillance, jumlah kasus yang meningkat secara eksponensial itu sebenarnya masuk kategori epidemi semu. Karena itu lebih banyak dipengaruhi oleh kapasitas laboratorium untuk memeriksa sampel. Jadi, semakin banyak laboratorium yang tersedia tentu jumlah kasus akan semakin banyak. 

Sebaran kasus berdasarkan Kab/Kota
Saat ini penyebaran kasus positif hampir di seluruh kab/kota , hanya Taliabu yang belum melaporkan kasus terconfirm positif. Untuk klasifikasi kasus Confirmasi (+) berdasarkan kelompok umur, maka yang terbanyak di kelmpok usia 16-30 tahun sebanyak 33 orang, dan > 60 tahun (kelompok rentan) 5 orang. 

Kelompk umur > 60 thn (rentan) adalah kelompok yang paling berisiko kematian apabila disertai dengan penyakit komorbid, hal ini di lihat dari 4 orang yang  meninggal 3 orang berusia > 60 tahun, 1 orang masuk kelompo usia 46-60 tahun.  

Gejala yang muncul dominan tanpa gejala dengan persentase 62,5% diikuti badan terasa kesakitan, hindung tersumbat, pilek, sakit kepala, sakit tenggorokan dengan persentase 20,4%, batuk pilek 5,7%, sesak nafas, batuk, demam, batuk 11,3%

Baca Juga: Pencegahan Virus Corona Dalam Perspektif Islam

Analisa

Saat ini kita suda bisa menilai/menghitung angka pertumbuhan kasus positif. Hal ini dilakukan agar kita bisa melihat posisi pertumbuhan kasus kita. Model yang digunakan adalah Basic Reproduction Number (R0). 

Kasus terconfirm positif berasal dari berbagai Kluster. Pemetaan nya ada dari Kluster Bandung, Jakarta, Surabaya, jateng, ABK Dorolonda yang kita sebut sebagai importer cases. Di samping importer cases, saat ini telah berlangsung Transmisi lokal di beberapa lokasi kab/kota. 

Untuk kota Ternate sendiri kita sebut dengan Kluster Akehuda. Kluster Akehuda adalah cluster dengan pola penyebaran kasus yang sangat cepat jika di bandingkan dengan cluster (importer cases), sehingga dengan demikian angka R0=4. Secara umum R0 global angkanya 2. tapi rilis pemerintah R0 nya 4. R0 ini memang bisa beda di tiap negara/daerah.  

Saat ini dengan adanya Kluster Akehuda R0 nya 4, artinya satu orang bisa menular ke 4 orang dalam 4 hari, maka bila sampai ada 6 orang penderita baru dari 1 orang kasus maka artinya orang tersebut sudah lama berkeliaran ke mana-mana.

Melihat skema penyebaran tersebut, dapat dipastikan telah terjadi lokal transmisi dan telah terjadi penularan Generasi ke tiga (3). Untuk cluster luar (impoter cases) pola penularan beda, sehingga dari sekian yang terconfirm positif, hanya bisa menularkan ke 1 orang saja. 

Hal ini (bisa) jadi beda strain virus (butuh penelitian lebih lanjut), (atau yang dari luar itu kontaknya tidak terlalu luas (hanya dengan kelompoknya dan juga perlu dipertimbangkan kondisi geografis tempat tinggal). 


Dengan demikian, pemerintah selaku Gugus Tugas Covid-19 harus berusaha agar R0 < 1 (Jika ingin mengeliminasi suatu penyakit maka R0 nya harus di bawah 1). 

"Jika R0 > 1 maka infeksi akan dapat mulai menyebar dalam populasi, tetapi tidak jika R0 < 1."


Penularan virus Corona sangat erat dengan mobilitas penduduk. Secara kasat mata saat ini mobilitas penduduk kota Ternate sangat tinggi dan kemungkinan terjadinya kontak dari kasus kasus positif cukup besar. Apalagi tingginya interaksi tidak disertai dengan jaga jarak (physical distancing)


Menurut Mulya Amri (Direktur Riset Katadata Insight Center) terdapat beberapa faktor yang membuat daerah tersebut dianggap paling rentan terhadap penularan virus corona. 

Pertama, risiko terkait dengan karakteristik daerah, seperti kepadatan penduduk, kualitas udara dan akses terhadap hunian yang layak. 

Kedua, risiko terkait dengan kondisi kesehatan penduduk, seperti jumlah penduduk yang merokok, jumlah warga lanjut usia dan warga yang tidak mempunyai jaminan kesehatan. 

Ketiga, risiko terkait dengan mobilitas penduduk.

Terkait dengan mobilitas penduduk, saat ini kita bisa hitung/simulasi dengan Physical distancing dan tanpa physical distancing (intervensi epidemiologis). 



Pertama dengan physical distancing (simulasi per 5 hari: riwayat kontak sehari 10 orang, peluang penularan 10% (0,1), maka Rp=10x0,1=1. 

Dihari ke 55 Malut yang positif covid 88 orang. Pertanyaan nya berapa jumlah pasien di hari ke 60? (5 hari setelah hari ke 55). Maka, N60  = ( 1 + 1)x 60= 1.920 orang positif Covid. 

Kedua dengan physical distancing (simulasi: riwayat kontak sehari 4 orang, peluang penularan 5%=0,05, maka RP=4x0,05=0,2, di hari ke 55 Malut ada 88 kasus positif. Pertanyaan nya adalah berapa jumlah pasien di hari ke 60? (5 hari setelah hari ke 55), maka  N60( 1 + 0,2)5 x 60= 149 orang positif Covid.

Dengan menghitung simulasi tersebut, maka untuk memperlambat penularan efektif nya kita harus menerapkan physical distancing dibanding tanpa physical distancing. 
Intervensi Untuk Memutus Mata Rantai Penularan Covid-19
Dua (2) opsi intervensi yang bisa dilakukan pemerintah selaku Gugus Tugas Covid-19 saat ini dengan konsekuensinya  masing-masing:

1. “Lock down”, Karantina, PSBB (total/parsial) -(isolasi ketat warga diwilayah dengan kasus tinggi, warga tidak boleh keluar masuk wilayah, warga harus betul-betul tinggal di rumah (kecuali untuk keperluan pertolongan medis dan logistic). 

Dengan pengawasan ketat maka jelas efektif memutus rantai penularan. Efek samping nya warga akan tercekik secara ekonomi, sangat “perih” tapi akan cepat “sembuh”. Cocok untuk pandemi saat ini.

2. Bukan “lock down” konsekwensi nya pemutusan rantai penularan sangat sulit, warga harus mempunyai kepatuhan tinggi dalam social distancing (kepatuhan warga diragukan tanpa upaya paksa), syarat bila bukan “lock down”: Massive case finding/detection. Mass screening harus dilakukan secara luas, dengan menggunakan rapid test yang sensisvitasnya tinggi. 

Kasus Covid-19 bagai gunung es, kasus positif yang dilaporkan saat ini hanya puncak kecil, sebagian besar kasus di “bawah permukaan laut”, dan ini merupakan reservoir penularan. 

Sebagai kesimpulan dari kajian ini, maka penanganan prevensi efektif adalah dengan mengurangi reproductive number se-optimal mungkin ➔ mengurangi beban kuratif dan jumlah kematian akibat penyakit. 

Bila tidak mampu: Peningkatan kapasitas testing ditingkatkan ➔ isolasi yang positif (pisahkan dengan populasi berisiko tinggi).

Irwan Mustafa, M.Epid
Pengurus  Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Malut dan PERSAKMI Malut.

0 Response to "Covid-19 Maluku Utara Dalam Kajian Epidemiolog"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

loading...

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...